Tag Archives | gubernur sulawesi tenggara

Buta Terhadap Keberhasilan Nur Alam

Gubernur Sulawesi Tenggara Nur alam dan Tina Nur Alam Buta Terhadap Keberhasilan Nur AlamBANDARA  Haluoleo adalah gerbang utama Sulawesi Tenggara. Ada sekitar 12 kali penerbangan dari dan ke bandara tersebut setiap hari. Jarak bandara ini dengan Kendari, ibukota provinsi, hanya kurang lebih 20 kilometer. Ruas jalan nasional  terse but beraspal mulus dan dua jalur. Lampu merkuri di meridian jalan membuat nyaman perjalanan malam hari menuju kota yang kini sedang tumbuh pesat.

       Sesudut pemandangan tersebut adalah bukti tak terbantahkan bahwa Sulawesi Tenggara sedang bergerak tahap demi tahap menuju perkembangan lebih jauh. Hanya orang buta yang tak mampu melihat fakta: jalan poros menuju bandara telah dilebarkan dan dibagi dua jalur, serta diberi penerangan lampu merkuri yang membuat kota menjadi hidup. Fakta lain: dua belas kali penerbangan antara lain dengan pesawat Boeing.

       Fakta-fakta tersebut adalah sebuah progres. Artinya, baru ada di era kepemimpinan Nur Alam dan Saleh Lasata sebagai Gubernur dan Wakil Guernur Sulawresi Tenggara yang menggunakan tagline Nusa. Dan itu baru sesudut pemandangan. Coba kita lebarkan sedikit pandangan ke berbagai sisi dan sudut, pasti di sana akan terlihat banyak progres.

       Dengan demikian,  kalau kita mendiskreditkan Nusa dengan ungkapan gagal, tukang mimpi, tidak mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi rakyat Sultra, itu ngoceh namanya. Jadi tukang ngoceh kurang baik karena sifat itu mengindikasikan bahwa kita tidak punya kerjaan, berwawasan kerdil pula.

       Seorang politisi pasti merasa hina jika dijuluki tukang ngoceh. Bisanya hanya mendikskreditkan lawan politik di media massa. Politisi yang baik pantang mengujat orang karena akan dinilai kurang memahami etika dan kesantunan. Dalam situasi normal, hampir tidak ada orang yang mau berteman dengan politisi  yang suka berbicara kasar di depan umum. Malu disebut tak berbudaya.

       Dalam agama Islam perbuatan menghujat dan mendiskreditkan orang, walaupun dia lawan politik,  adalah dosa besar. Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW telah menegaskan hal itu. Sifat buruk itu disebut dengki. Orang atau politisi yang memiliki sifat dengki selalu sakit hati melihat orang lain berhasil. Sakit hati itu diekspresikan dalam bentuk fitnah, mengoceh ke sana ke mari. Padahal, keberhasilan adalah rahmat Allah Swt. Jika sakit hati berarti kita melawan kehendak Allah Swt karena rahmat itu hak prerogatif  yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

       Kepemimpinan Nusa harus kita akui banyak membuat progres. Itulah sebabnya pasangan ini langsung menang satu putaran ketika pemilihan gubernur dan wakil gubernur, Pilkada Sulawesi Tenggara Tahun 2012. Tiket untuk masa jabatan periode kedua  2013-2018.  Seandainya pasangan ini dinilai gagal, mustahil mayoritas rakyat memilih mereka lagi. Suara mereka pasti diberikan ke pasangan Ridwan/Haerul dan Buhari/Amirul.

       Pada Pilkada sebelumnya, Nusa juga langsung menang satu putaran mengalahkan incumbent. Ini indikator bahwa rakyat makin cerdas dan berdaulat memilih pemimpinnya. Kemauan rakyat tersebut tidak bisa dilawan hanya dengan rasa dengki. Bersikap seperti itu kita akan makin ditinggalkan.

       Ada suatu progres dalam kepemimpinan Nur Alam bersama Saleh Lasata. Atau lebih tepat kita sebut inovasi. Dalam menggerakkan pembangunan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, Nur Alam tidak bermain di APBD maupun APBN. Dia hanya intens di tahap perjuangan mendapatkan anggaran. Tetapi setelah plafon disetujui, Nur Alam melepaskan APBD dan APBN ke SKPD dan kabupaten/kota. Dia sendiri lantas fokus melobi para investor. Maka muncullah megaproyek swasta di Kota Kendari seperti sejumlah pasar modern dan hotel berbintang.

       Kita harus jujur mengatakan bahwa kehadiran Lippo Plaza dan Hotel Clarion di Kendari adalah salah satu keberhasilan kepemimpinan Nur Alam. Jadi kedua megaproyek itu tidak jatuh dari langit. Siapa yang tidak kenal James Riady, sahabat dan penyandang dana kampanye Bill Clinton? Nah, Nur Alam mampu merangkul tokoh pengusaha tersebut sehingga mau berinvestasi di Sulawesi Tenggara.

Contoh smelter sulawesi tenggara Buta Terhadap Keberhasilan Nur Alam

Industri pengolahan nikel di Puriala, Kabupaten Konawe. Smelter ini diresmikan pengoperasiannya oleh Gubernur Nur Alam menjelang tutup tahun 2013. Masih banyak industri serupa yang akan bewroperasi tahun ini karena ekspor nikel mentah sudah dilarang.Foto Yamin Indas

  Di antara kemilau keberhasilan Nur Alam, tentu masih banyak yang belum dikerjakan. Ini memang gejala negeri miskin. Banyak keinginan dan mimpi indah tetapi hanya sedikit yang dapat diwujudkan. Pasalnya, kemampuan dana dan daya (sumber daya mansia) terbatas. Jadi tidak semua keinginan dan mimpi bisa dipenuhi sekaligus.

       Kita tengok ke bawah, masih banyak penduduk yang terkesan melarat. Semisal penduduk Pulau Kabaena di Kabupaten Bombana. Pulau itu subur  dan kaya mineral nikel. Tetapi kesan miskin sangat kuat. Mengapa? Penduduknya sendiri malas, lebih suka menikmati kemiskinannya daripada harus bekerja keras memanfaatkan lahan subur dekat rumah panggung milik satu-satunya. Dari segi tempat tinggal, mereka masih seperti burung. Sejak dunia terkembang, sarang burung tak pernah berubah.

       Gejala tersebut bukan indikasi kegagalan Nur Alam sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara. Dalam pembangunan di dunia ketiga, tidak semua masyarakat  bisa dan mampu melangkah maju secara serentak seperti kelompok militer sedang defile baris berbaris. Sebab kemampuan warga tidak sama, ada yang cepat menerima perubahan dan ada pula yang lamban seperti penduduk di Pulau Kabaena itu.

       Masih banyak yang harus dibenahi Nusa dalam sisa masa jaatan empat tahun ke depan. Sektor pertanian terkesan agak slowdown, meskipun dilaporkan terjadi peningkatan produksi masing-masing subsektor. Kita merasa geli melihat para pejabat di sektor ini ngantor setiap hari layaknya direktur perusahaan besar yang senantiasa merawat penampilan. Pakaian mereka necis tak ternoda lumpur sawah atau air comberan ikan berbau tengik.

       Bosan ngantor, cari alasan buat izin ke Jakarta atau daerah lain buat macam-macam urusan yang hasilnya tidak pernah jelas. Kita, misalnya, merindukan para pejabat sektor pertanian membuat acara panen raya atau kegiatan apalah yang terkait pemberdayaan para pelaku sektor ini, mengundang gubernur atau bupati untuk seremonialnya. Tidak semua acara seremonial jelek. Bagi dunia pertanian, seremonial itu ajang penyuluhan dan motivasi.

Comments { 0 }

Memacu Diri Hingga Mencapai Puncak

Gubernur Nur Alam dan istri Tina Nur Alam Memacu Diri Hingga Mencapai Puncak

Gubernur dan Ny Asnawati Nur Alam dalam sebuah acara resmi di Aula Nibandera, Kendari,

TANGGAL 9 Juli adalah hari istimewa bagi Nur Alam. Pada hari tersebut dia pertama kali melihat sinar matahari. Konda, tempat kelahirannya ketika itu masih berupa desa kecil, terletak di km-24 ruas jalan Kendari – Punggaluku.  Kondisi  jalan tersebut waktu itu belum teraspal. Lalu lintas angkutan pun masih sepi. Ruas itu hanya sesekali dilewati mobil truk yang mengangkut kayu atau rotan dari hutan Gunung Wolasi.

          Kurang lebih 39 tahun kemudian, desa itu mengukir sejarah. Nur Alam menjadi Gubernur Sulawesi Tenggara. Dia dipilih langsung oleh rakyat melalui Pilkada Gubernur Sultra di penghujung tahun 2007. Indonesia, dewasa ini memang sedang memasuki era demokratisasi setelah lebih 30 tahun dipimpin presiden otoriter, Soeharto.

          Nur Alam mencapai jabatan puncak itu bak sebuah mimpi. Dia putra daratan pertama yang mampu mengalahkan para pesaing dari kepulauan melalui pemilihan langsung. Hampir sepanjang sejarah pemerintahan di provinsi ini, jabatan gubernur selalu direbut putra daerah dari kepulauan. Adapun Abdullah Silondae, hanya menjabat kurang dari tiga tahun karena keburu wafat. Dia juga tercatat sebagai tokoh sipil pertama yang dipercaya Jenderal Soeharto menggantikan figur TNI, Jenderal Eddy Sabara.

     Mendiang Eddy Sabara adalah Gubernur Sulawesi Tenggara dua periode menyusul runtuhnya Orde Lama. Di zaman Orde Baru calon gubernur ditentukan di Istana. Setelah presiden memberi lampu hijau, calon bersama pendamping yang kerap disebut kayu bakar kemudian secara formalitas dipilih melalui DPRD. Begitu implementasi Demokrasi Pancasila.

          Ketika menginjak usia 46 tahun pada tanggal 9 Juli 2013, Nur Alam tengah menapak masa jabatan periode kedua sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara. Pesaingnya dari kepulauan tidak setangguh periode sebelumnya. Namun, dengan keberhasilan meraih masa jabatan periode kedua Nur Alam makin meneguhkan dirinya sebagai orang kuat di Sulawesi Tenggara (baca: daratan dan kepulauan). Karena itu saya merasa geli melihat anak-anak daratan yang tampak berambisi ingin mengganggu hegemoni politik Nur Alam dalam pemilihan bupati atau walikota. Mereka  adalah tokoh-tokoh masyarakat dan ada juga pejabat resmi seperti bupati.

     Nuansa politik tersebut terbaca, misalnya, dalam event pemilihan Bupati Konawe baru-baru ini. Pilkada Konawe itu kemudian dimenangi calon unggulan Nur Alam, Kerry Syaiful Konggoasa. Mestinya anak-anak daratan bertenggang rasa terhadap Nur Alam, tokoh muda yang mampu menghentikan langkah anak-anak kepulauan di ajang pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara. Belum tentu anak-anak daratan mampu bersaing dengan anak-anak kepulauan pada pemilihan gubernur pasca Nur Alam. Untuk ke depan itu, anak-anak kepulauan sekarang  tampak lebih siap. Pada tulisan sebelumnya secara eksplisit saya sudah menyebut nama salah satu bupati di kepulauan yang berpotensi menjadi gubernur menggantikan Nur Alam.

Gubernur Nur Alam perduli seni dan kebudayaan Memacu Diri Hingga Mencapai Puncak Nur Alam adalah tipe generasi muda Indonesia yang mampu menerobos tantangan hidup yang keras untuk meraih status sosial politik paling bergengsi dan terhormat seperti sekarang ini.  Dia berangkat dari bawah. Orangtuanya adalah keluarga sederhana di Desa Konda. Ayahnya, Isrun adalah pegawai kehutanan golongan rendahan dengan jabatan KRPH (Kepala Resort Pemangkuan  Hutan) Konda dan sekitarnya. Nur juga keluarga besar, 12 orang bersaudara. Nur Alam sendiri anak ke-11 dari pasangan Isrun-Sitti Fatimah. Adalah kepiawaian Sitti Fatimah mengelola gaji/pensiun yang tak seberapa sehingga selusinan anak-anak tersebut bisa bertahan hidup dan bersekolah. Bahkan, salah satu di antaranya menjadi orang Nomor 1 di Provinsi Sulawesi Tenggara.

     Dalam sebuah perjalanan rekreasi dengan mengemudikan sendiri salah satu dari sekian banyak mobil koleksinya, Nur Alam sempat menuturkan penggalan-penggalan kisah hidupnya kepada saya. “Di sana, agak ke tengah tempat saya sering menangkap ikan”, ujarnya menunjuk tepian Laut Banda di kawasan Tanjung Toronipa. Siang itu matahari tertutup awan tipis sehingga laut tampak agak lembayung tanpa riak. Suasana kehidupan yang kami lewati terasa lebih sejahtera, tercermin pada kondisi perumahan  penduduk yang terbangun dengan konstruksi permanen dan mulusnya jalan aspal yang membelah perkampungan mereka. “Saya yang aspal ini”, ujarnya. Maksud gubernur, ruas jalan lingkar Kendari – Toronipa diaspal dengan dana APBD Provinsi Sultra.

     Dia mengaku sejak SD telah berusaha hidup mandiri. Dia menjual kelapa atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Nur Alam menamatkan pendidikan SD di Konda tahun 1979. Dia melanjutkan sekolah di SMP Negeri 3 Kota Kendari. Ke sekolah tersebut dia berjalan kaki. Bila kecapekan, dia menginap di rumah sepupu ayahnya, Haeruddin. Ibunya, Sitti Fatimah   pun menyertainya  buat menyiapkan makanan dan pakaiannya.

     Masa pendidikan lanjutan di SMA Negeri IV Kendari, adalah episode paling getir bagi kehidupan Nur Alam. Dia kehilangan ayah menjelang tamat SMP. Semangatnya untuk hidup mandiri makin tinggi. Dia lalu bekerja serabutan, apa saja yang bisa menghasilkan uang. Yang penting halal. Kadang menjadi sopir angkutan kota sebagai tenaga cadangan. Atau ikut teman pergi melaut seperti disebutkan di atas. Pondokannya juga tak menentu, berpindah-pindah dari satu teman ke teman yang lain. Tidak jarang perutnya tak mendapatkan sesuap nasi sepanjang hari. Tetapi keadaan kritis tersebut lebih disebabkan semangatnya kelewat kuat untuk mandiri. Kalau dia mau, bisa saja ke rumah salah satu kerabatnya di Kendari untuk sekadar numpang makan, termasuk di rumah Haeruddin tentunya.

      Kendati menjalani hidup morat marit dari sisi ekonomi, Nur Alam dapat menyelesaikan jenjang-jenjang pendidikannya tepat waktu. Otaknya cerdas. Tamat SMP tahun 1983, tiga berikutnya menggondol ijazah SMA. Ketika di Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo, kuliahnya agak tersendat karena ia sibuk berbisnis. Dia sudah terjun ke dunia usaha formal, antara lain menjadi kontraktor (pemborong).   Benderanya adalah PT Tamalakindo, perusahaan yang dia dirikan sendiri. Gelar sarjana ekonomi baru diraihnya tahun 1993.

     Setahun kemudian, tepatnya 15 Januari 1994 Nur Alam mempersunting Asnawati Hasan, dipanggil akrab Tina, putri tokoh politik Sulawesi Tenggara yang disegani di permulaan Orde Baru. Hasan tercatat sebagai Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tenggara di era transisi politik tersebut. Sebuah sumber menyebutkan, perkenalan Nur Alam dengan Tina terjadi di sebuah rumah sakit Kendari tatkala dia menjenguk Pak Hasan yang sedang dirawat di situ. Alhasil, Nur Alam bercanda kepada ibunya Sitti Fatimah: “Ternyata ada anak gadisnya om Hasan yang cantik”. Ibunya senyum-senyum saja sebagai ungkapan rasa hati sang Bunda bahwa putra bungsunya itu sudah ingin menikah. Pasangan Nur Alam-Tina Asnawati membuahkan tiga putra putri. Sitya Giona Nur Alam, anak pertama kini studi di Singapura. Anak kedua Muhammad Radhan Algindo Nur Alam bersama si bungsu Enoza Genastry Nur Alam masih duduk di bangku SMA dan SD di Jakarta.

     Kiprah politik Nur Alam telah dirintis sejak aktif di asosiasi-asosiasi pengusaha yang semuanya bernaung di pohon beringin Golkar di era Orde Baru. Politik dukung-mendukung bupati atau walikota juga tak luput dari perhatiannya. Persahabatannya dengan mendiang La Ode Kaimoeddin, Gubernur Sultra dua periode justru dimulai dari suasana pro-kontra hasil pemilihan Walikota Kendari. Nur Alam menggugat putusan DPRD Kendari yang  menetapkan pasangan Masyhur Masie Abunawas/Muzakkir sebagai walikota dan wakil walikota terpilih. Mereka menang tipis, satu suara atas Buhari Matta bersama pasangannya. Dalam konflik itu Nur Alam dan Gubernur Kaimoeddin ternyata satu aspirasi.  Sejak itu hubungan pribadi kedua tokoh terjalin baik dan hangat.

     Ketika partai politik tumbuh menjamur dalam rangka pemilu yang dipercepat di era Presiden BJ Habibie, Nur Alam  bergabung  ke Partai Amanat Nasional (PAN). “Saya tertarik oleh konsep dan pandangan-pandangan ideologis para tokoh pendiri PAN, termasuk Amien Rais”, ujarnya menjawab pertanyaan mengapa memilih PAN. Nur Alam pun kemudian terpilih sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah PAN Sulawesi Tenggara. Ketuanya adalah mendiang Andrey Djufrie SH, mantan jaksa senior yang dikenal bersih dan masih kerabat istri Nur Alam.

       Pendirian dan proses konsolidasi partai yang sangat mepet dengan waktu pelaksanaan pemilu pertama di era reformasi, PAN akhirnya cuma kebagian  1 kursi di DPRD provinsi. Namun pada pemilu berikutnya (2004), kursi PAN di DPRD Sultra meningkat menjadi 6 kursi serta puluhan kursi di kabupaten/kota. Nur Alam pun menjajal elektabilitas dan kepiawaian merebut  pengaruh untuk meraih kursi wakil ketua di DPRD provinsi. Total kursi di DPRD Provinsi Sultra 45 kursi.

Gubernur Nur Alam pengaspalan jalan di pertigaan boulevard awal Mei 20132 Memacu Diri Hingga Mencapai Puncak

Target politik untuk menjabat wakil ketua terpenuhi. Maka muncul ambisi Nur Alam  yang lebih besar, yaitu ingin merebut kursi Gubernur Sultra.   Hasrat itu dipicu situasi politik pemilihan gubernur periode 2003-2008. Pada saat itu Golkar sebagai mayoritas di DPRD provinsi mengusung Ali Mazi SH sebagai calon gubernur. Padahal, Ali Mazi adalah figur  yang muncul mendadak di bursa kandidat gubernur. Kiprah politiknya di Sultra selama ini tidak jelas. Ali Mazi memang putra daerah kelahiran Pasarwajo (Buton) tetapi setelah menyelesaikan studi di Yogyakarta, dia kemudian menetap di Jakarta sebagai praktisi hukum (advokat).

     Sejak proses pencalonan hingga detik-detik pelantikan Ali Mazi sebagai Gubernur Sultra menggantikan La Ode Kaimoeddin, protes penolakan melalui demonstarsi massa  sulit dicegah. Tokoh di belakang   gelombang unjukrasa itu adalah Nur Alam, Wakil Ketua DPRD Sultra. Saat pelantikan, di luar gedung DPRD Nur Alam berorasi bahwa ia bertekad untuk menggantikan Ali Mazi lima tahun yang akan datang. Tekad Nur Alam tersebut akhirnya menjadi kenyataan.

     Selama lima tahun pertama kepemimpinan Nur Alam, banyak kemajuan yang dirasakan masyarakat Sultra. Untuk peningkatan  kapasitas wilayah terdepan, misalnya, dia menggelontorkan dana segar melalui APBD yang disebut blockgrant sebesar Rp 100 juta setiap desa dan kelurahan. Pendek kata, sebagian besar dana APBD diarahkan untuk peningkatan sumber daya manusia Sultra. Terkait dengan itu, selain blockgrant ada program kesehatan dan pendidikan gratis.

     Sejalan dengan program tersebut ditingkatkan pula pembangunan infrastruktur. Nur Alam juga  melibatkan partisipasi dunia usaha dalam pembangunan desa dan perkotaan. Dia berhasil menggaet pengusaha Indonesia terkemuka James Riady untuk membangun pusat perbelanjaaan  mewah di Kota Kendari. James Riady dikenal sebagai sahabat dan penyandang dana kampanye Presiden AS Bill Clinton. Pengusaha lain diarahkan membangun hotel berkelas di ibu kota provinsi tersebut.

     Keberhasilan Nur Alam tidak bisa diingkari. Pekerjaan sia-sia. Sama dengan menutup matahari dengan saputangan. Di awal periode masa jabatannya yang kedua, Nur Alam tak henti-hentinya dihujat dan difitnah, baik melalui media sosial maupun media cetak yang biasa dipakai untuk menyerang lawan politik.

     Jalan terus Nur Alam. Biduk berlalu kiambang bertaut, anjing menggonggong kafilah berlalu. Happy birthday! ***

Incoming search terms:

Comments { 0 }

Dana Pinjaman untuk Menerobos Percepatan

Jalan Mulus di Sulawesi Tenggara Dana Pinjaman untuk Menerobos Percepatan

Jalan ruas Tinanggea – Kasipute yang dikerjakan dengan bantuan Australia. Jika sebelumnya jarak Kendari-Kasipute (170 km) ditempuh 4-5 jam mobil angkutan umum, maka setelah jalan itu selesai diaspal waktu tempuh sisa 2 jam. Efisiensi waktu seperti itu yang dikejar Gubernur Nur Alam

PEMBANGUNAN di era reformasi tidak sepesat di zaman Orde Baru. Kemunduran itu mengundang pertanyaan karena dana Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara maupun Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah justru meningkat terus. APBN tahun ini misalnya mencapai sekitar Rp 1.500 trilyun. Di era Soeharto, APBN belum sampai menembus angka trilyunan. Boleh jadi dana APBN maupun APBD dimakan inflasi, disikat koruptor, dan tercecer oleh kebijakan-kebijakan inefiensi, serta biaya gonjang ganjing politik plus konflik horizontal dan vertikal. Maka aliran dana ke daerah menjadi sangat lemah sehingga pembangunan infrastruktur dan kebutuhan dasar lainnya hanya bersifat tambal sulam, bahkan mandek sama sekali.

      Dalam setiap kali melakukan kunjungan kerja ke kecamatan dan desa terpencil, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam pusing tujuh keliling. Pasalnya, rakyat suka minta dibuatkan jalan, jembatan, irigasi, listrilk, air bersih, bibit, pupuk, dan obat pembasmi hama. Sedangkan dana APBD maupun APBN sudah terbagi habis. Kebuntuan di lapangan seperti itu membuat Nur Alam harus berpikir keras untuk mencari terobosan. Langkah yang kemudian ditempuh Gubernur Nur Alam, dan ini ditiru banyak provinsi lain adalah memanfaatkan fasilitas pinjaman yang disediakan pemerintah pusat melalui badan layanan umum Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kementerian Keuangan. “Kita terpaksa meminjam karena APBN dan APBD tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat”, katanya dalam suatu perbincangan dengan saya di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, awal Juni 2013.

     Gubernur Nur Alam menjelaskan, masih banyak kantong-kantong permukiman dan produksi di Sulawesi Tenggara belum terakses dengan baik ke ruas-ruas jalan nasional (jalan arteri). Keadaan itu sangat tidak menguntungkan secara ekonomis. Pertumbuhan bergerak lamban. Biaya yang dikeluarkan masyarakat dalam melakukan aktivitas sosial dan ekonomi sangat tinggi. Penggunaan waktu dalam kegiatan mobilitas tidak efisien alias boros energi dan waktu.

     Kebutuhan riil untuk pembangunan infrastruktur di Sulawesi Tenggara, memang jauh lebih besar dibanding dana yang tersedia setiap tahun, baik melalui APBN maupun APBD provinsi dan kabupaten/kota Pada kesempatan berbeda, Faisal, staf ahli Gubernur Sultra menyebutkan, Sulawesi Tenggara membutuhkan dana sekitar Rp 6 trilyun setiap tahun, untuk menerobos percepatan pembangunan di bidang infrastruktur. Sementara dana yang tersedia hanya sekitar 25 persen. Agar pembangunan bergerak lebih cepat, pemerintah provinsi tidak bisa lain harus bertindak lebih cerdas dan kreatif.

     Gubernur Nur Alam kemudian memutuskan membuka program pinjaman dengan membangun rumah sakit sebagai uji coba kredibilitas pemerintah provinsi di mata pimpinan PIP Kementerian Keuangan. Dia mendahulukan pembangunan rumah sakit karena kondisi rumah sakit provinsi yang lama sudah sangat memprihatinkan. Pengap dan sempit. Sebagian pasien ditempatkan di lorong-lorong. Kepadatan rumah sakit tersebut dipicu program kesehatan gratis yang dilaksanakan sejak Nur Alam menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara beberapa tahun sebelumnya. Ibarat, berpenyakit kulit panu pun warga berebutan ke rumah sakit provinsi untuk mendapatkan pengobatan gratis.

     Kata berjawab gayung bersambut. Proposal pemerintah provinsi disambut hangat PIP. Maka, kehadiran sebuah rumah sakit modern di Kendari bernilai kurang lebih Rp 400 milyar terkesan seperti disulap, selesai dibangun hanya dalam waktu kurang lebih 2 tahun. Meski rumah sakit itu masih terus disempurnakan, termasuk penyediaan fasilitas penerangan listrik, air bersih, dan pemeliharaan kebersihan. Soal kekurangan di bidang pelayanan yang bersifat teknis, itu tanggung jawab pimpinan rumah sakit, bukan lagi urusan Gubernur Nur Alam. Karena itu juga menjadi catatan bagi gubernur bahwa pengangkatan pimpinan lembaga termasuk rumah sakit haruslah didasarkan atas kecakapan dan kemampuan profesional yang memadai. Sehingga dalam masalah teknis pun tidak perlu lagi gubernur harus turun tangan.

     Setelah pembangunan rumah sakit berjalan lancar dan sukses, Gubernur Nur Alam mengajukan lagi permintaan pinjaman tahap berikutnya. Sasaran penggunaannya adalah pembangunan infastruktur berupa jalan dan jembatan dalam rangka meningkatkan aksesibilitas kantong-kantong permukiman dan produksi yang selama ini masih kesulitan pelayanan angkutan dan transportasi. Gubernur telah menetapkan kawasan-kawasan unggulan yang akan segera didukung dengan pembangunan yang dananya bersumber dari pinjaman PIP.

Faisal ekonom yang menjadi staf ahli Gubernur Sultra Dana Pinjaman untuk Menerobos Percepatan

Faisal, ekonom Unhalu yang kini menjadi staf ahli Gubernur Sultra

Kawasan prioritas tersebut meliputi Konawe Utara, Konawe Selatan, Bombana, dan Wakatobi. Masing-masing kawasan memiliki potensi unggulan. Apa unggulan Wakatobi? Kabupaten Kepulauan Tukang Besi itu merupakan daerah tujuan wisata dengan obyek Taman Laut yang telah dikelola antara lain sebagai diving resort. Lalu tambang nikel dan emas di Kabupaten Bombana. Kabupaten ini juga memiliki obyek wisata pegunungan dan budaya di Pulau Kabaena yang berlokasi di Tangkeno, Negeri di Awan. “Negeri di awan” adalah slogan (tagline) untuk mempromosikan resort wisata tersebut.

     Akhir-akhir ini ada segelintir masyarakat menyoroti kebijakan Gubernur Nur Alam perihal pinjaman tersebut. Mereka melihat sisi negatifnya pinjaman itu, sebagai beban rakyat. Anggapan itu tidak berdasar sama sekali karena tidak ada penambahan pembayaran pajak bagi masyarakat untuk mengembalikan pinjaman lunak itu. Pinjaman pemerintah pusat itu diangsur dengan pendapatan asli daerah (PAD) yang memang terus meningkat setiap tahun.

     Sebagai contoh rumah sakit provinsi. Rumah sakit ini merupakan salah satu sumber PAD dalam struktur APBD Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebelum persetujuan pinjaman oleh PIP sebesar Rp 199 milyar, pendapatan rumah sakit itu mencapai kurang lebih Rp 30 milyar setahun. Angka itu menjadi jaminan pinjaman. Sekarang setelah menempati gedung baru dengan fasilitas pelayanan lebih canggih, pendapatan rumah sakit umum provinsi (RSUP) Bahteramas berkisar Rp 50 milyar sampai Rp 60 milyar. Dengan demikian, untuk mengangsur pinjaman dengan bunga yang hanya di bawah 10 persen setahun, bagi pemerintah provinsi tidak ada masalah.

GubernurNur Alam menguraikan teknis pengaspalan jalan di pertigaan boulevard awal Mei 2013 Dana Pinjaman untuk Menerobos Percepatan

Gubernur Sultra Nur Alam memberi wawasan teknis kepada para pejabat PU Sultra saat meninjau pengaspalan jalan Kendari – Konda yang menggunakan dana pinjaman PIP, awal bulan Mei 2013

Ada fakta yang perlu diketahui masyarakat Sulawesi Tenggara di balik kebijakan pinjaman yang dilakukan Gubernur Nur Alam. Pemerintah pusat ternyata sangat mengapresiasi upaya cerdas gubernur ini. Respons itu diwujudkan dengan cara meningkatkan DAU (Dana Alokasi Umum) bagi APBD Sulawesi Tenggara dalam rangka kompensasi besarnya pinjaman. Jadi jika angsuran pinjaman misalnya Rp 20 milyar sementara DAU hanya Rp 100 milyar, maka DAU tersebut didongkrak menjadi Rp 120 milyar. Dengan demikian, pelunasan pinjaman sekali lagi tidak ada masalah bagi Pemprov Sultra.

     Selain menorobos percepatan, keuntungan besar yang dipetik dari kebijakan pinjaman adalah momentum efisiensi. Hampir semua proyek besar (megaproyek) dikerjakan secara bertahap sesuai ketersediaan dana pemerintah. RSUP Bahteramas, misalnya, jika dibangun bertahap hingga 5-6 tahun sangat mustahil bisa serendah itu – Rp 400 milyar – biayanya. Sebab inflasi tidak mengenal kompromi. Karena itu, laju kenaikan harga barang tidak mungkin dihentikan. Dalam situasi seperti itu kondisi kemampuan finansial daerah akan semakin terjepit. Di lain pihak, kebutuhan mendesak masyarakat dengan sendirinya akan makin lama tertunda untuk pemenuhannya.

     Faisal Alhabsi, Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum Sulawesi Tenggara tak ketinggalan menguraikan keuntungan atas program pinjaman pemerintah pusat melalui badan layanan umum PIP Kementerian Keuangan. Saat ini, biaya pengaspalan jalan provinsi bisa ditekan menjadi kurang lebih Rp 1 milyar setiap kilometer. Tetapi 5 tahun yang akan datang, biaya itu akan naik paling kurang menjadi Rp 3 milyar. Nah, dengan adanya pinjaman PIP terjadi penghematan luar biasa, dan rentang waktu beban biaya aktivitas sosial ekonomi masyarakat dapat diperpendek.

Incoming search terms:

Comments { 0 }

Saatnya Kolaka Berbenah

Kantor Bupati Kolaka Saatnya Kolaka Berbenah

Kantor Bupati Kolaka Sulawesi Tenggara. Kantor ini dibangun di era Bupati Adel Berty dengan anggaran dari APBD Kolaka.

KOLAKA memiliki bupati baru. Wakil Bupati Amir Sahaka (60) diberi tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan pemerintahan di kabupaten berpenduduk 321.506 jiwa itu, sebagaimana layaknya seorang bupati. Adapun Buhari Matta telah diberhentikan sementara dari jabatan itu hingga perkara korupsi yang membelitnya mendapatkan putusan berkekuatan hukum tetap.

       Waktu bagi Amir memang sangat pendek. Sebab masa jabatan pasangan ini (Buhari Matta/Amir Sahaka) akan berakhir bulan Januari 2014. Namun, singkatnya waktu justru menjadi ujian apakah pejabat bupati mampu melakukan langkah-langkah pembenahan aparat birokrasi dan sekaligus juga menemukan platform pembangunan yang lebih berorientasi kepada penguatan ekonomi rakyat.

       Jawabannya pasti bisa, asal sikap eksklusifis otonomi dibuang jauh. Amir Sahaka harus selalu berkoordinasi dan bersinergi dengan gubernur selaku wakil pemerintah. Gubernur  Nur Alam pasti akan memberikan yang terbaik bagi rakyat Kolaka. Dia pasti mendukung program penguatan ekonomi yang telah dirintis rakyat Kolaka sejak lama, seperti perkebunan, pertanian tanaman pangan, pemanfaatan potensi lahan-lahan tambak, dan perikanan.

       Rabu pagi yang cerah (10 April 2013) membuat Kota Kolaka ikut bercahaya. Aktivitas warga berjalan seperti biasa. Hanya di kompleks gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kolaka terlihat konsentrasi petugas keamanan Polri dan sejumlah personel TNI-AD.  Pasalnya, di kompleks tersebut ada acara penting: Penyerahan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Pemberhentian Sementara Bupati Kolaka Buhari Matta dan Penunjukan Wakil Bupati Amir Sahaka untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab Penyelenggaraan Pemerintahan di Kolaka. Penyerahan keputusan Mendagri dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara H Nur Alam SE MSi.

       Kehadiran Gubernur Nur Alam di gedung DPRD Kolaka juga menarik perhatian masyarakat. Ia menggunakan kendaraan taktis Polri versi APC (Atrial Premature Complex). Ikut mendampingi gubernur di dalam kendaraan lapis baja itu  Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen (Pol) Ngadino, Kepala Badan Intelijen Nasional (Ka BIN) Daerah Brigjen TNI Taufik Hidayat, Komandan Korem 143/Haluoleo Kolonel (Inf) MS Fadhilah. “Jangan diartikan bahwa Kolaka dalam situasi huru hara. Saya hanya ingin menikmati kendaraan milik Brimob Polda Sultra yang masih baru itu”, kata Nur Alam saat menyampaikan sambutan di acara tersebut.

Pengamanan ketat adalah tindakan tepat dari pihak Polri dan TNI. Jadi Gubernur Nur Alam sebetulnya tidak sedang bermain akrobat. Dia tidak mau kecolongan. Sebab peristiwa serupa, yaitu penggantian bupati Kolaka di tengah jalan kurang lebih 10 tahun silam  gagal dilaksanakan karena dihalangi massa pendukung bupati yang akan dilengserkan. Petugas keamanan waktu itu seperti tak berdaya. Namun, boleh jadi terjadinya masalah itu akibat kurangnya koordinasi dengan pihak terkait  di tingkat provinsi dalam hal ini forum Muspida.

       Waktu itu Adel Berty sebetulnya telah menyatakan mengundurkan diri dari jabatan bupati Kolaka menyusul pengajuan dirinya sebagai bakal calon Gubernur Sultra periode 2002-2007. Pengunduran diri itu disahkan Menteri Dalam Negeri dan sekaligus diangkat pula Buhari Matta sebagai Pejabat Bupati Kolaka. Namun, ketika Gubernur La Ode Kaimoeddin hendak melantik Buhari di kantor Bupati Kolaka, kantor itu masih diduduki Adel Berty dan para pendukungnya. Ratusan tukang ojek juga menutup gerbang masuk halaman kantor bupati.

       Alhasil, gubernur bersama rombongan kembali ke Kendari. Buhari Matta pun dilantik di rumah jabatan gubernur. Keberuntungan rupanya sedang berpihak kepada Asisten II Setwilda Sulawesi Tenggara tersebut. Dia kemudian terpilih sebagai Bupati Kolaka hingga dua periode. Menjelang berakhirnya masa jabatan periode kedua, Buhari tersandung kasus korupsi penjualan nikel yang menimbulkan kerugian negara puluhan miliar.

Setelah berkas perkaranya dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor, Buhari diberhentikan sementara dan digantikan wakilnya Amir Sahaka.  Di antara mantan Bupati Kolaka yang hadir menyaksikan penyerahan surat keputusan Mendagri tentang penggantian bupati di tengah jalan tampak Drs H Adel Berty MSi. Mantan ini baru saja juga menjalani hukuman penjara karena terkait kasus korupsi di saat dia menjabat Bupati Kolaka.

       Gubernur Nur Alam memiliki catatan tersendiri terhadap keadaan di Kolaka di bawah kepemimpinan Buhari Matta. Konflik di antara keduanya sulit dihindarkan, dan situasi makin meruncing ketika Buhari maju bersaing dengan Nur Alam dalam Pilkada Sultra tahun 2012. Bila mengadakan kunjungan kerja ke Kolaka, Gubernur Nur Alam kurang mendapatkan sambutan semestinya. Banyak pejabat menghindar, termasuk kepala desa dan lurah. Satu-satunya pejabat yang setia menyambut gubernur adalah Wakil Bupati Amir Sahaka.

       Namun demikian, Gubernur Nur Alam tetap melindungi Buhari Matta. Dalam sambutannya saat menyerahkan surat keputusan Mendagri kepada Amir Sahaka, Nur Alam mengatakan bahwa kasus yang menimpa Buhari Matta lebih disebabkan kesalahan staf yang bermental ABS (asal bapak senang). “Dia (Buhari Matta) terjebak kasus yang menyeret dirinya ke pengadilan disebabkan perbuatan kalian yang tidak memberi pertimbangan yang benar”, kata Nur Alam dengan suara agak bergetar di depan ratusan aparat pemerintah yang memenuhi gedung DPRD Kolaka, termasuk  tokoh dan warga masyarakat.

       Selanjutnya Gubernur Nur Alam mengingatkan bahwa Buhari Matta tidak akan sendirian menjalani proses hukum terkait kasus korupsi hasil penjualan bijih nikel berkadar rendah. Beberapa staf yang berperan sebagai pembantu pelaku, atau boleh jadi bahkan menjadi otak kasus tersebut, dalam waktu tidak lama akan mengikuti jejak Buhari Matta.

       Ihwal penggantian Bupati Kolaka di tengah jalan Gubernur Nur Alam menyebut, ada juga pihak-pihak yang mengail di air keruh.  Menganggap peristiwa ini sebagai rekayasa politik sehingga mereka membuat keonaran, membuat pernyataan provakatif melalui media untuk mengadu domba masyarakat Kolaka. Bila tindakan pihak-pihak tadi sampai mengganggu keamanan dan ketertiban, maka gubernur akan melibatkan TNI dan Polri untuk mengatasinya.

 

 

Incoming search terms:

Comments { 0 }

Gubernur Sulawesi Tengggara Nur Alam ‘Berpamitan’

Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam Gubernur Sulawesi Tengggara Nur Alam ‘Berpamitan’

KETIKA menghadiri acara halal bil halal di berbagai tempat di Sulawesi Tenggara dan terakhir di Jakarta Minggu 9 September 2012, Gubernur Nur Alam menyatakan ‘berpamitan’ kepada rakyat Sultra sehubungan akan berakhirnya masa jabatannya pada tanggal 18 Februari 2013.

Namun, Nur Alam juga menyatakan telah memutuskan mencalonkan diri kembali untuk dipilih lagi sebagai Gubernur Sultra periode berikutnya. Keputusan yang diambil itu disebutnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pasangannya adalah Saleh Lasata pula. Mereka tetap menggunakan akronim Nusa. Pemilihan Gubenur Sultra 2013-2018 akan digelar 4 November 2012.

Suasana halal bi halal di Jakarta lebih nyaman, lebih berkilau, dan elite karena digelar di Ballroom Utama Gran Melia, hotel berbintang enam, di daerah Kuningan. Sekitar 700 warga asal Sultra di Jakarta dan sekitarnya tampak menikmati suasana silaturahim tersebut. Hadir juga mantan Rektor Universitas Haluoleo Mahmud Hamundu. “Masih banyak juga undangan tidak hadir, di antaranya mantan Gubernur Ali Mazi SH, Wakil Ketua DPD-RI Laode Ida, anggota DPR Oheo, Umar Arsal”, kata mantan Kepala Kantor Penghubung Pemprov Sultra di Jakarta, Muhammad Zayat Kaimuddin yang telah menempati posnya yang baru sebagai Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana (Ortala) Sekretariat Kantor Gubernur Sultra.

Halal bi halal sulawesi tenggara di Gran Melia Gubernur Sulawesi Tengggara Nur Alam ‘Berpamitan’La Ode Djeni Hasmar mengungkapkan kritikan kalangan tertentu terkait pelaksanaan halal bi halal saat menyampaikan sambutannya. Menurut Ketua Kerukunan Masyarakat Sulawesi Tenggara Jakarta tersebut, mereka menuduh acara tersebut sarat rekayasa politik. Padahal, acara halal bi halal sebagai forum silaturahim telah menjadi tradisi masyarakat asal Sultra di Jakarta sejak mendiang Ir H Alala menjabat Gubernur Sultra.

Gubernur Nur Alam kemudian minta tokoh pemekaran tersebut tidak risau dengan prasangka buruk seperti itu. “Kitab suci mengajarkan, orang berprasangka buruk belum tentu lebih baik dari kita”, ujarnya. Pandangan Nur Alam terebut merujuk firman Allah dalam Al Qur’an, surah Al Hujurat.

Selanjutnya ia berkata, “Saya bersama Pak Saleh Lasata pada kesempatan ini ingin berpamitan kepada semua masyarakat Sultra di Jakarta dan sekitarnya. Tak terasa kini sudah tiba di penghujung masa pengabdian kami melaksanakan amanah rakyat Sultra. Amanah ini hanya titipan sementara, tidak ada yang abadi di dunia ini”.

Ia mengemukakan, kemajuan yang dicapai selama masa bakti itu merupakan hasil kerja keras seluruh masyarakat Sultra. “Kalau ada kekurangan, maka sayalah dan Pak Saleh Lasata yang harus menerimanya sebagai pertanggungjawaban kami kepada Allah Swt di hari kemudian kelak”.

Sebagaimana isi pidato halal bi halal di berbagai tempat sebelumnya, pembangunan sumber daya manusia yang bertumpu pada program pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis serta pembangunan pedesaan melalui penyediaan dana segar berupa block grant merupakan tema sentral uraian gubernur di depan masyarakat Sultra yang mnghadiri acara halal bi halal di Hotel Gran Melia, 9 September 2012.

Menurut Gubernur Nur Alam, berbagai peningkatan ekonomi secara makro terkonfirmasi dengan baik. Angka kemiskinan, misalnya, jika semula tercatat 22 persen, maka kini tinggal 13 persen. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi saat ini mencapai 10,10 persen dari 7,1 persen. Dengan demikian, Sultra masuk dalam lima besar provinsi di Indonesia tertinggi pertumbuhan ekonominya.

Indikator empiris juga dikatakan terkonfirmasi dengan baik. Semisal pembelian kendaraan bermotor roda dua dan roda empat oleh masyarakat Sultra meningkat 60 persen setiap tahun. Kebutuhan semen pun cenderung meningkat sekitar 60 persen setahun. Indikator ini menunjukkan peningkatan kemakmuran dan kualitas hidup masyarakat.

Incoming search terms:

Comments { 0 }

Dibutuhkan Pemimpin Berintegritas Untuk Sulawesi Tengggara

Obsesi Nur Alam adalah menyatu dengan dan atau  mempersatukan rakyat Sulawesi Tenggara yang beragam etnis, budaya, dan kondisi geografi.

Seremoni dan perayaan hari ulang tahun (HUT) provinsi yang sejak awal selalu dipusatkan di Kendari (ibu kota provinsi) dialihkan secara bergilir ke kota-kota kabupaten. Gubernur Sulawesi Tenggara itu juga selalu hadir di kota-kota tersebut pada setiap Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha untuk berperan sebagai khatib shalat-shalat tersebut.Nur Alam Bicara Dibutuhkan Pemimpin Berintegritas Untuk Sulawesi Tengggara

Pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H/19 Agustus 2012 M, Gubernur Sulawesi Tenggara periode 2008-2013 itu berkhutbah di Masjid Raya Unaaha, Kabupaten Konawe. Ada seribuan umat Islam tumpah hingga meluap ke halaman masjid megah itu. Pembangunan masjid ini dirintis di era mendiang Ir H Alala sebagai Gubernur Sultra.

       Melalui khutbahnya berjudul Cahaya Ramadhan Menuntun Melestarikan Kemenangan,    Nur Alam mengajak umat Islam untuk melestarikan kemenangan yang telah diraih dalam bulan suci Ramadhan, antara lain kemenangan memperoleh rahmat dan ampunan dosa dari Allah Swt, kemenangan mengendalikan hawa nafsu, dan kemenangan mendapatkan berbagai kebajikan lainnya. “Ujian dan tantangan terhadap kemenangan tersebut, akan terasa dan terlihat pada pasca Ramadhan”, ujar Gubernur Sultra mengingatkan.

        Tema khutbah tersebut sebetulnya mengisyaratkan sebuah motivasi untuk meluaskan pandangan dan cakrawala berpikir umat Islam dan rakyat Sultra umumnya agar secara jujur melihat dan menghargai berbagai kemenangan dalam pelaksanaan pembangunan selama ini. Prestasi tersebut pada hakikatnya adalah kebajikan dan kesalehan sosial yang memberi makna keberagamaan kita.

       Nur Alam juga berbicara soal syarat atau kriteria pemimpin yang mampu mengantarkan rakyat Sultra mencapai kondisi sejahtera dan tercerahkan. Ini tujuan pembangunan yang harus diwujudkan. Untuk mewujudkan itu, katanya, dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki integritas, visioner, cerdas, energik, tegas, kreatif, bijaksana, memiliki jaringan kerja yang luas serta berwawasan keagamaan. Selain itu dia juga harus mengenal negerinya dan juga dirinya sendiri.

       Menutup khutbahnya Nur Alam memanjatkan untaian doa kepada Allah Swt, antara lain: “Allahumma ya Rahman, curahkan rahmat-Mu kepada segenap warga masyarakat Sultra agar mereka senantiasa hidup dalam kedamaian, sejahtera, bahagia lahir batin dan pandai bersyukur”.

       Di Kota Unaaha sehari sebelumnya, Gubernur Nur Alam menutup Safari Ramadhan 1433 H/2012 M. Berbaju kaos biru kombinasi celana krem, Gubernur Sultra itu disambut 2.000-an unit angkutan ojek (sepeda motor) yang berkonvoi melalui rute jalan sekitar satu kilometer hingga ke rumah adat Tolaki di Arombu

Incoming search terms:

Comments { 0 }

Gubernur Nur Alam Masih Kuat

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) incumbent Nur Alam terkesan masih kuat untuk dapat memenangi pemilihan Gubernur Sultra yang akan digelar sekitar awal November 2012. Kurang lebih 20.000 massa pendukung dengan berkendaraan roda dua dan roda empat, Kamis (30 Agustus 2012)  mengantar dan mengawal Nur Alam bersama Brigjen (Purn) H Saleh Lasata ke kantor

Gubernur Sultra Nur Alam 300x190 Gubernur Nur Alam Masih Kuat

Gubernur Sulawesi Tengggara Nur Alam SE MSi

Komisi Pemilihan Umum Daerah guna mendaftarkan diri sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur 2013-2018.

Sebelum ke kantor KPU pasangan Nur Alam dan Saleh Lasata dengan akronim Nusa, menghadiri deklarasi yang digelar di pelataran komplek arena MTQ Nasional XXI Tahun 2007 di Kota Kendari. Deklarasi itu dilaksanakan 18 partai koalisi sebagai pengusung Nusa, disaksikan

Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional/Menko Perekonomian  Hatta Radjasa, Ketua DPP Zulkifli Hasan yang juga Menteri Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu II, serta perwakilan partai-partai anggota koalisi.

Nusa bersama Ketum PAN Hatta Radjasa1 300x186 Gubernur Nur Alam Masih Kuat

Nur Alam didampingi Ketum DPP PAN Hatta Radjasa saat deklarasi dalam rangka pencalonannya kembali sebagai Gubernur Sultra periode 2013-2018 di Kendari, Kamis 30 Agustus 2012. Saleh Lasata yang juga sebagai calon wakil gubernur di kanan Hatta Radjasa. Paling kiri adalah Menhut/Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan

Dalam suasana gegap gempita itu hadir pula kader-kader partai koalisi yang sedang menduduki jabatan politik seperti Bupati Wakatobi Hugua (Ketua DPD PDIP Sultra), Bupati Bombana Tafdil (Ketua DPD PAN Bombana), Walikota Kendari (Ketua DPD PAN Kota Kendari), Bupati Konsel Imran (mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sultra), Bupati Buton Utara Ridwan Zakariah (Ketua DPD PAN Buton Utara), Bupati Butoon Umar Samiun (Ketua DPD PAN Kabupaten Buton).

Koalisi pengusung Nusa terdiri atas 8 partai yang memiliki kursi di DPRD Sultra, yaitu PAN (7 kursi), Partai Demokrat (7), Partai Keadilan Sejahtera (5), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (2), PBB (2), PKB (2), Gerindra (1), PKPI (1). Anggota koalisi lainnya meliputi 11 partai non-kursi di DPRD Sultra dengan total 14,9 persen  dari 45 kursi di DPRD Sultra. Tanpa koalisi pun Nusa sebetulnya sudah lolos sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur karena partai pengusung utama, PAN telah mencapai 15 persen dari 45 kursi di DPRD Sultra. Nur Alam adalah Ketua DPW PAN Sultra.

Alasan Nur Alam menggandeng banyak partai menuju “Sultra 01” adalah dalam rangka membangun sinergi dan kebersamaan di antara elite lokal dan nasional untuk membangun Sultra. Dikatakan oleh Nur Alam, untuk membangun daerah tidak cukup hanya dengan kader-kader partai tertentu tetapi harus melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Figur Nur Alam (45), terbukti masih memiliki daya tarik yang kuat. Lapangan terbuka komplek MTQ XXI 2007 segera menjadi lautan biru putih begitu Nur Alam bersama Menko Hatta Radjasa menaiki panggung deklarasi. Yel-yel ‘lanjutkan’ terus membahana untuk menjawab teriakan, Nusa!

Tokoh ini juga pernah membuat Kota Kendari lumpuh total ketika melakukan kampanye penutup pada pilkada yang mengantarkannya menjadi Gubernur Sultra periode sekarang ini (2008-2013). Kampanye dalam bentuk rapat umum (waktu itu) digelar di lapangan Benu-Benua. Lautan manusia yang memadati lapangan tersebut memaksa warga kota yang lain harus berjalan kaki karena angkutan umum parktis lumpuh, tidak bisa bergerak sampai kampanye tersebut selesai menjelang magrib.

Alhasil, pilkada tersebut berpihak pada Nur Alam bersama pasangannya Saleh Lasata. Mereka mengalahkan Gubernur (incumbent) Ali Mazi SH yang berpasangan dengan Abdul Samad (Azimad). Pilgub 2007 diikuti empat pasangan. Adapun pilgub 2012 ini besar kemungkinan hanya diikutiu tiga pasangan. Dua pasangan yang lain adalah Buhari Matta/Amirul Tamim dan Ridwan/Chaerul Saleh. Buhari/Amril diusung PPP dan beberapa partai lain. Sedangkan Ridwan/Chaerul didukung Partai Golkar.

Mantan Gubernur Sultra (2003-2008) Ali Mazi juga terlihat berupaya untuk ikut pilgub lagi tahun ini. Namun, boleh jadi dia terganjal kendaraan politik yang telah terbagi habis ke ketiga pasangan tadi.

Soal siapa bakal pemenang dalam pilkada Gubernur Sultra 2012 ini, hanya Allah Swt yang tahu. Manusia hanya bisa melihat indikator dan gejala aspirasi yang bergerak dinamis. Indikator itu seperti dikatakan Hatta Radjasa ketika bericara atas nama partai koalisi pengusung Nusa adalah, “Kita dukung Nusa karena mereka terbukti berhasil membangun Sultra. Pertumbuhan ekonomi Sultra pada tahun 2012 ini, misalnya, mencapai di atas 10 persen. Jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 6 persen lebih. Alasan lain: Mereka jujur, adil, dan mencintai rakyat yang mereka pimpin”.

Incoming search terms:

Comments { 0 }
Tulisan Terkaitclose
UA-40133217-1