RS PMI Bogor Supervisi RS PMI Kendari

PMI Kendari saat berbicara dengan PMI Bogor RS PMI Bogor Supervisi RS PMI KendariPADA awalnya hanya ada dua rumah sakit Palang Merah Indonesia, yaitu RS PMI Bogor di Jawa Barat dan RS PMI Kendari di Sulawesi Tenggara. Setelah bencana alam dahsyat tsunami meluluhlantakkan Kota Banda Aceh dan sekitarnya, barulah dibangun RS PMI Lhokseumawe di Aceh, dan di beberapa tempat lainnya di Tanah Air.

RS PMI Bogor yang didirikan tahun 1931 atas prakarsa kelompok sosial orang-orang Belanda, kini telah berkembang menjadi rumah sakit umum modern seiring dengan derasnya perkembangan sosial ekonomi masyarakat Bogor dan daerah sekitarnya. Perkembangan infrastruktur dan transportasi dalam scope lintas wilayah, juga ikut memacu dan memicu pertumbuhan RS PMI Bogor. Sehingga rumah sakit ini pun kemudian mengembangkan pelayanan kegawatdaruratan sebagai bidang unggulan. Dengan demikian, kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan masalah traumatologis adalah prioritas tinggi bagi RS PMI Bogor. Pelayanan tersebut senantiasa terlaksana secara maksimal berkat dukungan tenaga-tenaga medis spesialis yang ditunjang pula dengan peralatan diagnostik modern.

Adapun RS PMI Kendari nasibnya seperti kerakap tumbuh di batu, hidup enggan mati tak mau. Rumah sakit ini dirintis Ibu Emmirya, istri mendiang Gubernur Sulawesi Tenggara Mayor Jenderal TNI (Purn) Eddy Sabara. Pria berdarah Muna Bugis ini menjabat Gubernur Sultra sejak tahun 1966 hingga tahun 1978. Dia menggantikan La Ode Hadi, gubernur terpilih pertama menyusul terbentuknya Provinsi Sulawesi Teggara bulan April 1964. Pergantian itu terjadi dalam suasana proses peralihan kekuasaan politik dari Orde Lama ke Orde Baru.

Pada masa-masa sulit itulah Ibu Emmirya, wanita berdarah Sunda dan mantan pejuang Kemerdekaan yang bergerak di bidang kepalangmerahan memprakarsai pembangunan RS PMI Kendari. Usaha tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat Sultra dan Kota Kendari khususnya yang kondisi rumah sakit umumnya ketika itu masih sangat minim.

Setelah memiliki gedung sederhana dan kecil pula di bilangan Kemaraya, RS PMI Kendari ditangani secara operasional mendiang dr Muhammad Ali, orang Sunda pula yang ‘dibawa’ Ibu Emmirya Sabara. Rumah sakit ini segera diperkuat dengan pembukaan Unit Transfusi Darah (UTD). Sasaran pelayanan RS PMI Kendari lebih banyak melayani persalinan ibu-ibu dan memasok kebutuhan darah RSU Provinsi Sultra yang juga berkembang seiring perkembangan daerah Sulawesi Tenggara.
RS PMI Kendari saat ini berkapasitas kurang lebih 12 tempat tidur dengan peralatan medis sangat minim. Tenaga dokter yang ada semuanya berstatus ‘tamu’. Kecuali operasi bedah, operasi yang dilakukan dokter spesialis tertentu harus menggunakan peralatan pribadi yang dibawa dari ruang praktiknya sendiri. Demikian menurut dr H Ansar Sangka MM, Wakil Ketua PMI Sultra yang diberi otoritas Gubernur Nur Alam untuk membenahi kekumuhan RS PMI Kendari. Ketua PMI Sultra dipegang Ny Hj Rusiawati, istri mantan Wakil Gubernur Sultra Drs H Yusran Silondae MSi.

Seperti dikatakan Ansar, Markas Besar PMI Jakarta merasa prihatin melihat kondisi RS PMI Kendari. Oleh karena itu, Markas Besar PMI telah memerintahkan manajemen RS PMI Bogor untuk melakukan supervisi dan pembinaan RS PMI Kendari. Kebijakan itu diambil dalam masa kepemimpinan Mari’e Muhammad sebagai Ketua Umum PMI.

Dalam rangka tindak lanjut kebijakan Markas Besar PMI tersebut, Sabtu tanggal 8 September 2012 Ansar Sangka mengunjungi RS PMI Bogor dan melakukan serangkaian pembicaraan dengan para pejabat rumah sakit tersebut. Ansar yang juga menjabat Kepala Biro Kesra Sekretariat Daerah Provinsi Sultra diterima dengan penuh rasa kekeluargaan oleh pimpinan RS PMI Bogor. Mereka adalah Saptono Raharjo, Wakil Direktur bidang Sarana dan Prasarana; Yuliantini Herman sebagai Wakil Direktur bidang Pelayanan Medik & Keperawatan, dan Rudi Agung Wahono (Kepala Bidang Sekretariat RS PMI Bogor).

Adalah dokter Saptono Raharjo sendiri yang pernah datang meninjau kondisi RS PMI Kendari beberapa waktu lalu. “Namun, sejauh ini tidak ada respons yang konkret dari pihak RS PMI Kendari terhadap upaya pembinaan yang telah dilakukan RS PMI Bogor. Pasalnya, kita terbentur pada minimnya kemampuan SDM RS PMI Kendari’, ujar Ansar.

Tetapi Ansar telah bertekad untuk menindaklanjuti uluran tangan manajemen RS PMI Bogor dalam rangka memajukan RS PMI Kendari. Sebagai langkah awal dan ini telah disetujui pihak manajemen RS PMI Bogor, RS PMI Kendari akan mengirim tenaga perencanaan dan pelayanan medis untuk ‘magang’ di RS PMI Bogor.

Penyiapan tenaga kapabel dan memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya, tidak bisa lagi ditunda dalam rangka melakukan perubahan di RS PMI Kendari. Langkah tersebut terasa makin mendesak karena berkat pendekatan Ansar terhadap Ketua Umum PMI Jusuf Kalla, Markas Besar PMI telah menyediakan dana sebesar Rp 1 miliar bagi pembangunan dan pengembangan RS PMI Kendari. Ansar menambahkan, dana itu akan digunakan antara lain untuk membangun beberapa kamar VIP (Very Importen Person) RS PMI Kendari.

RS PMI Bogor yang berkapasitas 170 tempat tidur memiliki sekitar 17 kamar VIP yang terdiri atas kelas platinum, gold, dan kelas silver. Untuk kelas platinum, misalnya, bertarif Rp 1 juta per malam. Kondisi dan fasilitas kamar tersebut, saya lihat memang setara dengan kamar hotel berbintang empat. Berstatus tipe B, RS PMI Bogor saat ini dipimpin Dr Andi Wisnubaroto dengan karyawan kurang lebih 840 orang dan 75 dokter dari berbagai bidang spesialisasi.

Dalam sejarahnya RS PMI Bogor dikelola Markas Besar PMI sejak tahun 1951. Sejak itu ditunjuk sebagai rumah sakit swasta dengan nama RSU PMI Bogor. Tercatat pula bahwa pada tahun 1964 dibentuk Yayasan RSU PMI Bogor yang diketuai Ibu Hartini Soekarno. Yayasan ini kemudian dibubarkan pada tahun 1966.

Seperti dikemukakan Saptono Raharjo, kebijakan pengembangan RS PMI Bogor sehingga mampu melayani kelas sosial menengah atas adalah semata-mata untuk mempertahankan eksistensi dan meningkatkan daya saing. Sebab di Kota Bogor mulai bermunculan rumah sakit berkelas untuk merebut pangsa pasar dari golongan sosial tersebut.

Maka, RS PMI Bogor pun memiliki poliklinik eksekutif selain poliklinik umum. Poli eksekutif merupakan penunjang sarana dan fasilitas yang tersedia bagi pelayanan golongan menengah atas sebagaimana disebutkan tadi.

RS PMI Bogor masih terus berbenah dengan kemampuan sendiri (swadaya). Pembangunan fisik dan peningkatan kualitas pelayanan akan dilaksanakan dalam beberapa tahun ke depan. Antara lain renovasi beberapa bangunan tua dengan penambahan ruang ke arah langit dalam rangka mengoptimalkan lahan seluas 3,6 hektar yang menyangga komplek rumah sakit di sebuah sudut Jalan Raya Pajajaran No 86 Bogor, itu.

Incoming search terms:

, ,

No comments yet.

Leave a Reply

Tulisan Terkaitclose
UA-40133217-1